Rabu, 07 Mei 2008

Frédéric Chopin (1810-1849)-Epoch: Romantic-Country: Poland/France


Introduction
(born Zelazowa Wola, ?1 March 1810; died Paris, 17 October 1849).

The son of French émigré father (a schoolteacher working in Poland) and a cultured Polish mother, he grew up in Warsaw, taking childhood music lessons (in Bach and the Viennese Classics) from Wojciech Zywny and Jósef Elsner before entering the Conservatory (1826-9). By this time he had performed in local salons and composed several rondos, polonaises and mazurkas. Public and critical acclaim increased during the years 1829-30 when he gave concerts in Vienna and Warsaw, but his despair over the political repression in Poland, coupled with his musical ambitions, led him to move to Paris in 1831. There, with practical help from Kalkbrenner and Pleyel, praise from Liszt, Fétis and Schumann and introductions into the highest society, he quickly established himself as a private teacher and salon performer, his legendary artist's image being enhanced by frail health (he had tuberculosis), attractive looks, sensitive playing, a courteous manner and the piquancy attaching to self-exile. Of his several romantic affairs, the most talked about was that with the novelist George Sand (Aurore Dudevant) though whether he was truly drawn to women must remain in doubt. Between 1838 and 1847 their relationship, with a strong element of the maternal on her side, coincided with one of his most productive creative periods. He gave few public concerts, though his playing was much praised, and he published much of his best music simultaneously in Paris, London and Leipzig. The breach with Sand was followed by a rapid deterioration in his health and a long visit to Britain (1848). His funeral at the Madeleine was attended by nearly 3000 people.  

No great composer has devoted himself as exclusively to the piano as Chopin. By all accounts an inspired improviser, he composed while playing, writing down his thoughts only with difficulty. But he was no mere dreamer - his development can be seen as an ever more sophisticated improvisation on the classical principle of departure and return. For the concert-giving years 1828-32 he wrote brilliant virtuoso pieces (e.g. rondos) and music for piano and orchestra; the teaching side of his career is represented by the studies, preludes, nocturnes, waltzes, impromptus and mazurkas, polished pieces of moderate difficulty. The large-scale works - the later polonaises, scherzos, ballades, sonatas, the Barcarolle and the dramatic Polonaise-fantaisie - he wrote for himself and a small circle of admirers. Apart from the national feeling in the Polish dances, and possibly some narrative background to the ballades, he intended notably few references to literary, pictorial or autobiographical ideas.

Chopin is admired above all for his great originality in exploiting the piano. While his own playing style was famous for its subtlety and restraint, its exquisite delicacy in contrast with the spectacular feats of pianism then reigning in Paris, most of his works have a simple texture of accompanied melody. From this he derived endless variety, using wide-compass broken chords, the sustaining pedal and a combination of highly expressive melodies, some in inner voices. Similarly, though most of his works are basically ternary in form, they show great resource in the way the return is varied, delayed, foreshortened or extended, often with a brilliant coda added.

Chopin's harmony however was conspicuously innovatory. Through melodic clashes, ambiguous chords, delayed or surprising cadences, remote or sliding modulations (sometimes many in quick succession), unresolved dominant 7ths and occasionally excursions into pure chromaticism or modality, he pushed the accepted procedures of dissonance and key info previously unexplored territory. This profound influence can be traced alike in the music of Liszt, Wagner, Fauré, Debussy, Grieg, Albéniz, Tchaikovsky, Rachmaninov and many others.

Extracted with permission from
The Grove Concise Dictionary of Music
edited by Stanley Sadie
© Macmillan Press Ltd., London.

source : http://w3.rz-berlin.mpg.de/cmp/chopin.html

Sabtu, 26 April 2008

Ooooh....

Tahukah engkau, aku makin gagah hari ini! Sungguh, aku makin gagah! Lebih dari kemarin, dari kemarinnya lagi, dan dari kemarin-kemarinnya lagi. Coba lihat, dahiku tidak berkerut-kerut oleh pikiran dan kepedihan seperti beberapa hari yang lalu. Bibirku tidak mengerucut oleh kejengkelan dan kemarahan seperti kemarin. Mukaku tidak lagi tertekuk penuh beban dan be BeTe an seperti waktu-waktu yang lewat. Tubuhku tidak lagi lesu karena keputus asaan dan kehilangan harapan.

Sungguh, aku makin gagah hari ini! Coba perhatikan, mataku bersinar-sinar oleh kegembiraan. Bibirku merekah lebar oleh senyum ketulusan. Pipiku merona merah oleh semangat pengharapan. Urat-urat wajahku santai memancarkan aura kepasrahan. Dan semuanya menjadikan wajahku berseri-seri. Sungguh, gagahnya aku hari ini!
Sudah sepekan aku banyak tertawa, menari dan menyanyi, menikmati hidup ini dan tidak membiarkan permasalahan mempengaruhi suasana hati. Ah, gagahnya diriku karenanya. Sudah sepekan aku berusaha banyak menyapa dan memaafkan semua saudara. Dan itu telah membuatku lebih gagah hari ini. Sudah seminggu aku berusaha lebih banyak berderma pada sesama. Kini aku merasakan gagah sebagai balasannya. Sudah seperempat bulan aku berusaha lebih mensyukuri setiap karunia Ilahi. Dan kini kurasakan Allah menambahi nikmat itu dengan menjadikanku gagah sekali. Bahagianya aku karenanya! Dan bahagia itu, kurasakan kian membuatku gagah saja.

Ada kalanya kita membenci diri kita sendiri. Ada kalanya kita tidak menyukai apa yang kita lakukan. Ada kalanya kita melakukan kesalahan. Ada kalanya kita terpuruk dalam kepedihan. Ada kalanya kita tenggelam dalam kesedihan. Ada kalanya kita tak mengerti mengapa hidup berjalan tidak seperti yang kita bayangkan. Ada kalanya perjalanan menjadi demikian berat kita rasakan. Hingga sikap kita pun terbawa oleh perasaan.

Hingga kita mengambil langkah tanpa pertimbangan. Tindakan yang dilakukan pun merupakan reaksi spontan. Akibatnya yang tertinggal kemudian hanya penyesalan dan keterpurukan yang semakin dalam. Dan tahukah dikau? Semua itu akan menyebabkan penampilan dan tampang kita menjadi makin buruk saja.

Maka berbahagialah ketika kita bisa melewati masa-masa seperti itu dengan elegan. Saat kita bisa menahan diri terhadap sesuatu yang sangat kita inginkan. Saat kita bisa menghadapi segala permasalahan dengan tenang, dan saat kita berhasil menaklukkan musibah dan hambatan penyebab kesedihan.
Hidup tidaklah berjalan seperti yang kita inginkan, karena itu melewati saat-saat yang tidak meneyenangkan adalah sebuah hal yang membahagiakan. Misalnya, sesungguhnya aku adalah seorang yang sangat emosional. Adalah membahagiakan bagiku ketika dalam banyak hal akhir-akhir ini aku dapat meredam emosiku.

Dan itu membuat aku merasa gagah sekali. Aku adalah seorang yang sangat ekspresif, sehingga perasaan apapun yang tersimpan di hati akan nampak dengan jelas pada bahasa tubuh. Maka sungguh membahagiakan ketika dalam banyak hal kemudian aku dapat menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya dan dapat tetap tampil stabil.
Dan sungguh, aku merasa makin gagah karenanya. Adalah hal yang menyenangkan ketika aku tidak panik, padahal aslinya aku adalah seorang yang gampang panik. Maka sungguh menyenangkan, ketika aku dapat mengontrol semua emosi, pikiran dan perasaan sehingga berhasil mengatasi diri sendiri. Betapa membahagiakan tatkala kita berhasil mengalahkan diri sendiri. Ketika aku dapat melakukannya, maka ini adalah pencapaian terbesar dalam hidupku.

Hingga kemudian kegagalan-kegalan yang telah kita lalui bukanlah sesuatu yang sia-sia. Selama kita tak kehilangan pelajaran dari kegagalan yang kita alami, semua itu akan menjadi bukti sejarah atas pembelajaran hidup.

hi

Animated Pictures Myspace Comments
MyNiceSpace.com